A. Pemasangan IUD
Apabila prosedur pemasangan telah dijelaskan dan pertanyaan atau
kekhawatiran wanita telah diatasi, maka ia kemungkinan besar menjadi lebih
santai saat prosedur sehingga memfasilitasi pemasangan dan meminimalkan rasa
tidak nyaman. Teknik pemasangan yang benar dapat secara bermakna mengurangi
risiko kehamilan dan komplikasi-ekspulsi, perdarahan dan nyeri, perlorasi serta
infeksi.
B. Peralatan Yang Diperlukan Untuk Pemasangan
1. Lampu
2. Speculum
dua katup
3. Apusan
bakleriologis (apabila diindikasikan)
4. Lidi
kapas
5. Larutan
antiseptik
6. Sarung
tangan bersih
7. Wadah
sekali pakai untuk instrument yang sudah dipakai dan sampah klinis
8. Baki/bengkok
steril (wadah untuk instrument pemasangan)
9. Forseps
steril 10 inci untuk memegang spons
10.
Sonde uterus lentur steril yang berskla sentimeter
11.
Forseps jaringan 12 inci atau tenaklum satu-gigi dengan ujung tumpul yang
steril
12.
Gunting yang cukup panjang sehingga dapat memotong benang
C. Penentuan Waktu Pemasangan
AKDR dapat dipasang setiap saat
selama siklus menstruasi asalkan kehamilan sudah disingkirkan. AKDR dapat
dipasang segera setelah terminasi kehamilan secara penghisapan atau evakuasi
aborsi spontan, dan 6 minggu setelah persalinan per vaginam atau melalui seksio
sesarea. Pemasangan AKDR pascaplasenta (dalam 48 jam setelah melahirkan) juga
aman dan nyaman, terutama apabila wanita selanjutnya sulit berhubungan dengan
petugas kesehatan, tetapi angka eksplulsinya tinggi.
Pemasangan AKDR selama masa
menstruasi secara konvensional dianjurkan karena beberapa alasan berikut: kecil
kemungkinannya ada kehamilan, serviks lebih lunak dan os internus sedikit
membuka, kemungkinan pemasangan lebih mudah, dan perdarahan setelah pemasangan
tersamar oleh darah menstruasi. Namun, juga ada kekurangan-angka ekspulsi
sedikit lebih tinggi karena kontraktilitas uterus meningkat dan sebagian wanita
tidak senang apabila diperiksa saat menstruasi.
D. Teknik Pemasangan
Karena metode pemasangan berbeda
untuk masing-masing alat, maka pemasangan paling aman apabila kita mengikuti
petunjuk produsen dengan cermat.
1. Sepanjang
prosedur, harus diterapkan teknik “jangan menyentuh” (no touch technique). Bagian dari sonde dan alat pemasangan yang
sudah terisi yang masuk ke dalam uterus jangan disentuh, bahkan dengan tangan
yang sudah bersarung, kapanpun. Dengan demikian, pemakaian sarung tangan yang
bersih (non-steril) sudah memadai.
2. Setelah
pemeriksaan panggul bimanual, serviks dipajankan dengan speculum
sementara wanita berbaring dalam posisi litotomi modifikasi atau posisi
lateral.
3. Serviks
dibersihkan dengan antiseptik dan dipegang dengan forseps atraumatik 12
inci (forseps Allis panjang sering digunakan). Tarikan ringan untuk meluruskan
kanalis uteroservikalis membantu pemasangan AKDR di fundus.
4. Sonde
uterus dimasukkan dengan htai-hati untuk menentukan kedalaman dan arah rongga
uterus serta arah dan kepatenan kanalis servikalis apabila dijumpai
spasme/stenosis serviks, maka mungkin perlu dipertimbangkan pemberian anestetik
lokal dan dilatasi os serviks.
5. AKDR
dimasukkan ke dalam alat pemasangan sehingga AKDR akan berletak rata dalam
bidang transversal rongga uterus saat dilepaskan.
6. AKDR
jangan berada di dalam alat pemasanga lebih dari beberapa menit karena alat ini
akan kehilangan “elastisitasnya” dan bentuknya akan berubah.
7. Tabung
alat pemasanga secara hati-hati dimasukkan melalui kanalis servikalis, AKDR
dilepaskan sesuai instruksi spesifik untuk masing-masing alat kemudian alat
pemasang dikeluarkan.
8. Setelah
pemasangan, dianjurkan untuk melakukan sonde kanalis ulang untuk menyingkirkan
kemungkinan AKDR terletak rendah. AKDR harus diletakkan di fundus agar
insidensi ekspulsi dan kehamilan rendah.
9. Benang AKDR
harus dipotong dengan gunting panjang sampai sekitar 3 cm dan os eksternus.
E. Teknik Pengeluaran
1. Benang
terlihat
a. Gunakan speculum
untuk melihat serviks dan lihat dengan jelas adanya benang AKDR
b. Jepit
benang (-benang) dengan kuat dekat os eksternus dengan forceps arteri lurus.
c. Lakukan
tarikan lembut kea rah bawah. Biasanya AKDR akan tertarik dengan mudah dan
dengan nyeri minimal. Apabila dijumpai tahanan, atau apabila pasien merasa
nyeri, hentikan tarikan dan
d. Periksa
ukuran dan posisi uterus dengan pemeriksaan bimanual.
e. Jepit
serviks dengan forceps jaringan dan lakukan terikan lembut untuk meluruskan
kanalis uteroservikalis.
f.
Lanjutkan terikan pada benang dan keluarkan AKDR seperti biasa.
g. Kadang-kadang
kita perlu memberikan anestesia lokal untuk mengurangi rasa tidak nyaman saat
pengeluaran.
2. Apabila
benang putus
Sewaktu pengeluaran, kanalis
servikalis harus dieksplorasi secara hati-hati dengan forseps arteri lurus
untuk memeriksa apakah ujung bawah AKDR telah turun ke kanalis servikalis.
Apabila terasa, maka batang vertical AKDR dapat dijepit dan dikeluarkan.
Apabila AKDR seluruhnya berada di dalam rongga uterus, maka dapat dilakukan
eksplorasi rongga uterus dengan forceps bengkok yang kecil dan panjang atau
“pengait” untuk mengetahui lokasi dan mengeluarkan AKDR. Dilatasi serviks dapat
dicapai dengan pemberian misoprostol 400 μg per vagina sebelum eksplorasi
uterus. Hanyar dokter yang berpengalaman dalam teknik intrauterus yang boleh
melakukan prosedur semacam ini.
3. Perubahan
AKDR
AKDR sebaiknya tidak diganti sebelum
interval yang dianjurkan karena pengeluaran dan pemasangan kembali meningkatkan
risiko kegagalan, ekspulsi, dan infeksi. Pada wanita yang berusia 40 tahun atau
lebih, AKDR yang mengandung tembaga dapat dibiarkan di tempatnya sampai 12
bulan setelah periode menstruasi terakhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar